"SELAMAT BERGABUNG" SILAHKAN LIHAT DAN BACA!!!!!!

IKUT GABUNG YUK!! MARI KITA BERBAGI ^_^

Selasa, 05 Maret 2013

RONDE KEPERAWATAN pada pasien dengan SOL (SPACE OCCUPYING LESION)

BAB I RENSTRA RONDE KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA NASOFARING + SOL (SPACE OCCUPYING LESION) DI RUANG RAWAT INAP BEDAH SARAF BAWAH RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG 1. Pengertian Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh perawat, di samping pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konsulen, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim. Karakteristik : • Pasien dilibatkan secara langsung • Pasien merupakan fokus kegiatan • Perawat associate, perawat primer dan konsulen mealakukan diskusi bersama • Konsulen memfasilitasi kreativitas • Konsulen membantu mengembangkan kemampuan perawat associate, perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah 2. Tujuan 2.1 Memudahkan cara berpikir kritis 2.2 Menumbuhkan pemikiran tentang keperawatan yang berasal dari masalah pasien 2.3 Meningkatkan validitas data pasien 2.4 Meningkatkan kemampuan justifikasi 2.5 Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja 2.6 Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana keperawatan 3. Peran 3.1 Perawat primer dan Perawat Associate Dalam melaksanakan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang dapat memaksimalkan keberhasilan, antara lain : • Menjelaskan keadaan dan data demografi pasien • Menjelaskan masalah keperawatan utama • Menjelaskan intervensi yang belum akan dilakukan • Menjelaskan tindakan selanjutnya • Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil 3.2 Peran Perawat primer lain dan Konsulen • Memberikan justifikasi • Memberikan reinforcement • Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang rasional • Mengarah dan mengoreksi • Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari 3.3 Sasaran Pasien Tn. ”Rs”, 37 tahun dengan Ca Nasofaring + SOL di ruang Bedah Saraf Bawah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. 3.4 Metode Ronde Keperawatan (Nursing Round) 3.5 Langkah-langkah Langlah-langkah yang diperlukan dalam ronde keperawatan adalah sebagai berikut : 4. Pelaksanaan 4.1 Persiapan a. Penetapan kasus minimal sehari sebelum waktu pelaksanaan ronde b. Pemberian informed consent kepada pasien dan keluarga 4.2 Pelaksanaan Ronde a. Penjelasan tentang pasien oleh ronde perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana yang akan atau dilaksanakan dan memiliki prioritas yang akan didiskusikan b. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut c. Pemberi justifikasi oleh perawat primer atau perawat konselor/manajer tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan dilakukan. d. Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah ada yang akan ditetapkan. 4.3 Pasca Ronde a. Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada pasien tersebut serta menetapkan tindakan yang perlu dilakukan. b. Bagaimana peran perawat primer dan perawat associate dalam pelaksanaan pengorganisasian ronde. 5. Pengorganisasian a. Kepala ruangan : Frida Ariani, S.Kep b. PP : Ririn Charlina, S.Kep c. PA : Widia Aldahyani, S.Kep d. Notulen + perlengkapan : Rofikotul Awaliyah, S.Kep e. Dokumentasi + moderator : Oktobor, S.Kep 6. Kegiatan Ronde Keperawatan Waktu Tahap Kegiatan Pelaksana Tempat Keg. Ps 20 menit Pra-Ronde Pra Ronde : 1. Menentukan kasus dan topik 2. Menentukan tim ronde 3. Menentukan Literatur 4. Membuat Proposal 5. Mempersiapkan pasien 6. Diskusi Pelaksanaan Co. Ners Bina Husada Nurse station 5 Menit Pembukaan Ronde Pembukaan 1. Salam pembuka 2. Memperkenalkan tim ronde 3. Menyampaikan identitas dan masalah pasien 4. Menjelaskan tujuan ronde Co. Ners Bina Husada Kamar Pasien 30 Menit Isi Ronde Penyajian masalah 1. Memberikan salam dan memperkenalkan pasien dan keluarga pasien kepada tim ronde. 2. Menjelaskan riwayat penyakit dan keperawatan pasien 3. Menjelaskan masalah pasien dan rencana tindakan yang telah dilaksanakan dan serta menetapkan prioritas yang perlu didiskusikan Validasi data : 1. Mencocokan dan menjelaskan kembali data yang telah disampaikan. 2. Diskusi antar anggota tim dengan pasien tentang masalah keperawatan tersebut. 3. Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau kepala ruangan tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan dilakukan menentukan tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah di tetapkan. Co. Ners Bina Husda 10 Menit Pasca Ronde 1. Evaluasi dan rekomendasi intervensi kep. 2. Penutup Karu, Supervisor, Perawat konselor, pembimbing Nurse Station 7. Waktu dan Tempat Hari / tanggal : Sabtu, 2 Januari 2013 Tempat : Ruang Bedah Saraf Bawah RSMH Palembang Waktu : 10.00 WIB Peran masing – masing anggota tim : a. Peran perawat primer dan associate - Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien - Menjelaskan diagnosa keperawatan - Menjelaskan intervensi yang dilakukan - Menjelaskan hasil yang didapat - Menjelaskan rasional dari tindakan yang diambil - Menggali masalah-masalah yang belum dikaji b. Peran perawat konselor - Menjelaskan justifikasi - Memberikan reinforcement - Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta rasional keperawatan - Mengarahkan dan koreksi - Mengitegrasikan konsep yang telah dipelajari 8. Kriteria Evaluasi a. Bagaimana koordinasi dan persiapan ronde b Bagaimana peran perawat primer/perawat associate pada saat ronde c. Bagaimana peran perawat primer dan perawat associate dalam pelaksanaan penggorganisasian ronde. BAB II TINJAUAN TEORITIS SOL (SPACE OCCUPYING LESION) 2.1 Definisi SOL ( Space Occupying Lesion ) merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intracranial ( Long C , 1996 : 130). Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak (Lombardo, Mary caster 2005 : 1183). Tumor otak maligna adalah kanker didalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan sebelahnya/yang telah menyebar keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah, ( Reeves C,J. 2001. Keperawatan medical bedah ). 2.2 Anatomi dan fisiologi 2.2.1 Anatomi a. Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu; skin atau kulit, connective tissue atau jaringan penyambung, aponeurosis atau galea aponeurotika, loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan pericranium Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital. Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior tempat lobus frontalis, fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak dan serebelum. b. Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu : 1. Dura mater Dura mater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal. Dura mater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium.Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara dura mater dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural.Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural.Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural.Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media). 2. Selaput Arakhnoid Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang.Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala. 3. Pia mater Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adarah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya.Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater c. Otak Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu; Proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula oblongata dan serebellum. Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara.Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang.Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggungjawab dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan.Pada medula oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggungjawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan. Cairan Serebrospinal (CSS) Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, akuaduktus dari sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intrakranial. Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior). Vaskularisasi otak Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis. Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis. 2.2.2 Fisiologi Kepala Tekanan intrakranial (TIK) dipengaruhi oleh volume darah intrakranial, cairan secebrospinal dan parenkim otak. Dalam keadaan normal TIK orang dewasa dalam posisi terlentang sama dengan tekanan CSS yang diperoleh dari lumbal pungsi yaitu 4 – 10 mmHg. Kenaikan TIK dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan atau memperberat iskemia.Prognosis yang buruk terjadi pada penderita dengan TIK lebih dari 20 mmHg, terutama bila menetap. Pada saat cedera, segera terjadi massa seperti gumpalan darah dapat terus bertambah sementara TIK masih dalam keadaan normal. Saat pengaliran CSS dan darah intravaskuler mencapai titik dekompensasi maka TIK secara cepat akan meningkat. Sebuah konsep sederhana dapat menerangkan tentang dinamika TIK.Konsep utamanya adalah bahwa volume intrakranial harus selalu konstan, konsep ini dikenal dengan Doktrin Monro-Kellie. Otak memperoleh suplai darah yang besar yaitu sekitar 800ml/min atau 16% dari cardiac output, untuk menyuplai oksigen dan glukosa yang cukup. Aliran darah otak (ADO) normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gram jaringan otak per menit. Pada anak, ADO bisa lebih besar tergantung pada usainya. ADO dapat menurun 50% dalam 6-12 jam pertama sejak cedera pada keadaan cedera otak berat dan koma. ADO akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita yang tetap koma ADO tetap di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah cedera. Mempertahankan tekanan perfusi otak/TPO (MAP-TIK) pada level 60-70 mmHg sangat rirekomendasikan untuk meningkatkan ADO. 2.3 Etiologi Penyebab tumor masih sangat sedikit yang diketahui. Radiasi merupakan salah satu dari factor penyebab timbulnya tumor otak. Trauma, infeksi, dan toksin belum dapat dibuktikan sebagai penyebab timbulnya tumor otak tetapi bahan industri tertentu seperti nitrosourea adalah krasinogen yang paten. Limfoma lebih sering terdapat pada mereka yang mendapat imunosupesan seperti pada transplantasi ginjal. Sumsum tulang dan pada AIDS, ( Reeves C,J. 2001. Keperawatan medical bedah ). 1. Riwayat trauma kepala 2. Faktor genetik 3. Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik 4. Virus tertentu 5. Defisiensi imunologi 6. Congenital 2.4 Patofisiologi - Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan edema serebral - Aktivitas kejang dan tanda – tanda neurologis fokal - Hidrosefalus - Gangguan fungsi hipofisis Pada fase awal, abses otak ditandai dengan edema local, hyperemia, infiltrasi leukosit / melunaknya parenkim trombosis sepsis dan edema, beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses uque fraction atau dinding kista berisi pus. Kemudian rupture maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis ( long, 1996 : 193 ). Terjadi proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervus ( CNS ). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat disekitarnya mengakibatkan terjadi gangguan neurologis ( Gangguan Fokal Akibat Tumor Dan Peningkatan TIK ). Tumor – tumor otak primer menunjukkan kira – kira 20 % dari penyebab semua kematian kanker. Tumor – tumor otak jarang bermetastase ke otak, biasanya dari paru – paru, payudara, cairan glastrointestinal bagian bawah, pankreas, ginjal, dan kulit ( melanoma ). Insiden tertinggi pada tumor otak dewasa terjadi pada dekade ke 5, 6, 7 dengan tingginya insiden pada pria usia dewasa tumor otak banyak dimulai dari sel gelia ( sel untuk mebuat struktur dan mendukung sistem otak dan medula spinalis ) dan merupakan supratentorial ( Terletak Diatas Penutup Cerebellum ) jelasnya neoplastik dalam palastik menyebabkan kematian yang mengganggu fungsi vital, seperti pernafasan atau adanya peningkatan TIK. 2.5 Manifestasi Klinis Peningkatan tekanan intracranial a. Nyeri kepala Nyeri bersifat dalam, terus – menerus, tumpul dan kadang – kadang bersifat hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu batuk, membungkuk dan mengejan. b. Nausea dan muntah Akibat rangsangan pada medual oblongata c. Papil edema Statis vena menimbulkan pembengkakan papila saraf optikus. Menurut lokasi tumor : 1. Lobus frontalis: gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi, bingung, tingkah laku aneh, sulit memberi argumentasi / menilai salah atau benar, hemiparesis, ataksia dan gangguan bicara. 2. Korteks presentalis posterior: kelemahan / kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan jari. 3. Lobus parasentalis: kelemahan ekstrimitas bawah. 4. Lobus oksipintalis : kejang, gangguan penglihatan. 5. Lobus temporalis: tinitus, halusinasi pendengaran, afasia senorik, kelumpuhan otot wajah. 6. Lobus parietalis: hilang fungsi sensorik karotikalif, gangguan lokalisasi sensorik, gangguan penglihatan. 7. Cerebulum: nyeri kepala, gangguan motorik, hipotonia, hiperextrimitas, sendi. Tanda dan gejala umum : a. Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin bertambah bila batuk membungkuk. b. Kejang. c. Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial : pandangan kabur, mual, muntah, penurunan fungsi pendengaran, perubahan TTV, afasia. d. Perubahan kepribadian. e. Gangguan memory. f. Gangguan alam perasaan. 2.6 Klasifikasi Tumor Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). Terdiri dari 3 kategori, yaitu : T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional ) dan M ( metastase jauh ). Kategori T : Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi. Tis = Tumor in situ. T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer. T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm. T2 = Tumor dengan f maksimal 2 – 5 cm. T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm. T4 = Tumor invasi keluar organ. Kategori N : N0 = Nodul regional negative. N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ). N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan. N3 = Nodul jukstregional atau bilateral. Kategori M : Mo = Tidak ada metastase organ jauh. M1 = Ada metastase organ jauh. M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi. Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut menurut (Lionel Ginsberg, Neurologi: 117) yaitu : 1. Benigna umumnya ekstra aksial, yaitu tumbuh dari meningen, nervus kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi ekstrinsik pada substansi otak. 2. Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak : a) Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia (glioma) tumor ini diklasifikasikan maligna karena sifat invasif lokal, metastasis ekstrakranial sangat jarang, dan dikenali sebagai subtipe histologi dan derajat diferensiasi. b) Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh lainnya. 1. Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi : a. Jinak : Acoustic neuroma, meningioma, pituitary adenoma, astrocytoma (grade I) b. Malignant: Astrocytoma (grade 2,3,4), Oligodendroglioma, Apendymoma 2. Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi : a. Tumor intradural: Ekstramedular, Cleurofibroma, Meningioma intramedural, Apendimoma, Astrocytoma, Oligodendroglioma, Hemangioblastoma b. Tumor ekstradural. Merupakan metastase dari lesi primer. 2.7 Pathoflow Terlampir 2.8. Pemeriksaan Penunjang 1. CT Scan: Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor, dan meluasnya edema serebralsekunder serta member informasi tentang sistem vaskuler 2. MRI: Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam batang otak dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangudalam gambaran yang menggunakan CT Scan 3. Biopsi stereotaktik: Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan seta informasi prognosisi 4. Angiografi: Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor 5. Elektroensefalografi ( EEG ): Mendeteksi gelombang otak abnormal. 2.9 Komplikasi 1. Gangguan fungsi neurologis 2. Gangguan kognitif 3. Gangguan tidur dan mood 4. Disfungsi seksual ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SOL A. Pengkajian 1. Anamnesis a. Identitas klien : usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tgl MRS, askes, dst. b. Keluhan utama : nyeri kepala disertai penurunan kesadaran. c. Riwayat penyakit sekarang : demam, anoreksi dan malaise peninggian tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal. d. Riwayat penyakit dahulu : pernah, atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media, mastoiditis) atau infeksi paru – paru (bronkiektaksis, abses paru, empiema), jantung (endokarditis), organ pelvis, gigi dan kulit). 2. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Pola fungsi kesehatan a. Aktivitas / istirahat Gejala : malaise Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter. b. Sirkulasi Gejala : adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis Tanda : TD : meningkat N : menurun (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor). c. Eliminasi Gejala : - Tanda : adanya inkonteninsia dan atau retensi. d. Nutrisi Gejala : kehilangan nafsu makan, disfagia (pada periode akut) Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering. e. Hygiene Gejala : - Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan, perawatan diri (pada periode akut). f. Neurosensori Gejala : sakit kepala, parestesia, timbul kejang, gangguan penglihatan. Tanda : penurunan status mental dan kesadaran. Kehilangan memori, sulit dalam keputusan, afasia, mata : pupil unisokor (peningkatan TIK), nistagmus, kejang umum lokal. g. Nyeri / kenyamanan Gejala : sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher / pungung kaku. Tanda : tampak terus terjaga, menangis / mengeluh. h. Pernapasan Gejala : adanya riwayat infeksi sinus atau paru Tanda : peningkatan kerja pernapasan (episode awal). Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah i. Keamanan Gejala : adanya riwayat ISPA / infeksi lain meliputi : mastoiditis, telinga tengah, sinus abses gigi, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala. B. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungn dengan obstruksi ventrikel 2. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK 3. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kurang nutrisi 4. Gangguan imobilitas fisik berhubungan dengan tekanan pada serebelum (otak kecil) 5. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penglihatan C. Intervensi 1. Gangguan perfusi jaringan berhubungn dengan obstruksi ventrikel Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam diharapkan perfusi jaringan kembali normal dengan KH : TTV normal Kesadaran pasien kembali seperti sebelum sakit Gelisah hilang Ingatanya kembali seperti sebelum sakit Intervensi : 1. Pantau status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya seperti GCS 2. Pantau frekuensi dan irama jantung 3. Pantau suhu juga atur suhu lingkungan sesuai kebutuhan. Batasi penggunaan selimut dan lakukan kompres hangat jika terjadi demam 4. Pantau masukan dan pengeluaran, catat karakteristik urin, tugor kulit dan keadaan membrane mukosa 5. Gunakan selimut hipotermia 6. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti steroid, klorpomasin, asetaminofen Rasional : 1. Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensi TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran, luas,dan perkembangan dari kerusakan 2. Perubahan pada frekuensi dan disritmia dapat terjadi yang mencerminkan trauma atau tekanan batang otak tentang ada tidaknya penyakit 3. Demam biasanya berhubungan dengan proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus 4. Hipertermi meningkatkan kehilangan air dan meningkatkan resiko dehidrasi, terutama jika tingkat kesadaran menurun 5. Membantu dalam mengontrol peningkatan suhu 6. Dapat menurunkan permebilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema, mengatasi menggigil yang dapat meningkatkan TIK, menurunkan metabolisme seluler/ menurunkan konsumsioksigen. 2. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam nyeri hilang dengan KH : Nyeri hilang Pasien tenang Tidak terjadi mual muntah Pasien dapat beristirahat dengan tenang Intervensi : 1. Berikan lingkungan yang tenang 2. Tingkatkan tirah baring, bantu perawatan diri pasien 3. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata 4. Dukung pasien untuk menemukan posisi yang nyaman 5. Berikan ROM aktif/pasif 6. Gunakan pelembab yang agak hangat pada nyeri leher/punggung yang tidak ada demam 7. Kolaborasi pemberian obat analgetik seperti asetaminofen, kodein sesuai indikasi Rasional : 1. Menurunkan reaksi terhadap stimulus dari luar dan meningkatkan istirahat 2. Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri 3. Meningkatkan vasokontriksi, penumpukan resepsi sensori akan menurunkan nyeri 4. Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut 5. Membantu merelaksasi ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri 6. Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit 7. Untuk menghilangkan nyeri yang hebat 3. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kurang nutrisi Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan pasien menjadi adekuat dengan KH : Mual muntah hilang Napsu makan meningkat BB kembali seperti sebelum sakit Intervensi : 1. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan 2. Beri makanan dalam jumlah kecil dan sering 3. Timbang berat badan 4. Kolaborasi dengan ahli gizi Rasional : 1. Menentukan pemilihan terhadapjenis makanan sehingga pasien terlindungi dari aspirasi 2. Meningkatkan proses pencernaan dan kontraksi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan 3. Mengevaluasi keefektifan/ kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 4. Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori\nutrisi 4. Gangguan imobilitas fisik berhubungan dengan tekanan pada serebelum (otak kecil) Tujuan : klien dapat menunjukkan cara mobilisasi secara optimal. KH : Klien dapat mempertahankan meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh yang sakit, mempertahankan integritas kulit dan kandung kemih dan fungsi usus. Intervensi : 1. Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi. 2. Kaji derajat imobilitas pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0 -4) 3. Letakkan pasien pada posisi tertentu, ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu Rasional : 1. Mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan. 2. Seseorang dalam semua kategori sama – sama mempunyai risiko kecelakaan namun katagori 2 – 4 mempunyai resiko terbesar untuk terjadinya bahaya tsb sehubungan dengan imobilisasi. 3. Perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap berat badan dan meningkatkan sirkulasi seluruh bagian tubuh. 5. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan penglihatan Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan penglihatan pasien kembali normal dengan KH : Pasien dapat melihat dengan jelas Intervensi : 1. Pastikan atau validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik, orientasikan kembali pasien secara teratur pada lingkungan, dan tindakan yang akan dilakukan terutama jika penglihatannya terganggu 2. Buat jadwal istirahat yang adekuat/periode tidur tanpa ada gangguan 3. Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dam melakikan aktivitas 4. Rujuk pada ahli fisioterapi Rasional : 1. Membantu pasien untuk memisahkan pada realitas dari perubahan persepsi, gangguan fungsi kognitif dan atau penurunan penglihatan dapat menjadi potensi timbulnya disorientasi dan ansietas 2. Mengurangi kelelahan, mencegah kejenuhan, memberikan kesempatan untuk tidur REM (ketidakadaan tidur REM ini dapat meningkatkan gangguan persepsi sensori 3. Menurunkan fruktasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan /pola respon yang memanjang 4. Pendekatan antardisiplin dapat menciptakan rencana penatalaksanaan berintegrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan /ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus pada peningkatan evaluasi, dan fungsi fisik, kognitif, dan perseptual ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny “Rs” DENGAN CA NASOFARING + SOL DI RUANG BEDAH SARAF BAWAH DI RSUP Dr. MOHAMMAD HOSIEN PALEMBANG Tanggal pasien masuk : 15 Januari 2013 Tanggal pengkajian : 27 Januari 2013 IDENTITAS PASIEN Inisial : Ny “Rs” Umur : 37 tahun Pendidikan : SMP Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Status Pernikahan : Belum Menikah Alamat : Kayu Agung, OKI Dx.Medik : Ca Nasofaring + SOL Penanggung Jawab Pasien Inisial : Tn “R” Umur : 37 tahun Pendidikan : SMP Pekerjaan : Wiraswasta Status Pernikahan : Menikah Alamat : Kayu Agung, OKI PENGKAJIAN 1) Alasan utama datang ke RS : Klien mengalami mulut pengot/miring serta berbicara pelo/cadel 2) Riwayat penyakit saat ini (P,Q,R,S,T) : Klien mengatakan 1 bulan SMRS mulutnya miring/pengot dan berbicara cadel/pelo yang lama kelamaan semakin berat. Klien mengeluh susah mengunyah dan sakit saat menelan, tenggorokan terasa sempit. 3) Keluhan Utama : Nyeri kepala bagian depan dan mata terasa seperti ditarik-tarik. 4) Riwayat kesehatan lalu : Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit klien sekitar tahun 2009 klien pernah menderita vertigo dan berobat ke dokter dan dilakukan pemeriksaan mikroskopik patologi dan didapatkan hasil ca nasofaring satge III dan dirujuk ke RSMH. Klien di radiasi di Jakarta dan menolak untuk kemoterapi. Pengobatan tidak diteruskan. 5) Riwayat kesehatan keluarga : Klien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang pernah mengalami kejadian yang sama dengan klien. Genogram Keterangan: : laki- laki : Perempuan X : Meninggal : Klien 6) Riwayat pengobatan dan alergi : a. Riwayat pengobatan : Klien tidak mendapat pengobatan tertentu b. Riwayat alergi : Klien tidak mengalami alergi terhadap makanan dan obat-obat tertentu PENGKAJIAN FISIK 1. Keadaan Umum Sakit/ Nyeri : - Klien mengalami nyeri sedang dengan skala nyeri 5 - Klien mengatakan nyeri pada kepala bagian depan dan sekitar mata seperti ditarik-tarik dengan intensitas 3x dan hilang timbul - Status gizi : - klien mengatakan sudah lama tidak menimbang berat badannya namun kata klien berat badannya turun dari berat badan ia sebelumnya. - Sikap : Klien tampak meringis - Personal Higiene : - Mandi : Klien mengatakan mandi 1x sehari - Kuku : Kuku klien tampak bersih dan pendek - Rambut : Rambut klien tampak bersih - Kulit : Kulit tampak bersih Masalah keperawatan : nyeri, gangguan kebutuhan nutrisi 2. Data Sistematik a. Sistem Penglihatan - Nyeri tekan : Saat dilakukan palpasi pada kedua mata, klien tidak merasakan adanya nyeri tekan - Kesimetrisan mata : Simetris antara mata kanan dengan mata kiri - Alis : Pertumbuhan rambut sempurna - Konjungtiva : Tidak anemis - Sklera : Tidak ikterik - Kornea : Tidak terdapat kekeruhan kecuali mata sebelah kiri yang keruh - Palpebra : ada pembengkakkan pada mata kiri Masalah keperawatan : gangguan persepsi sensori; penglihatan b. Sistem Persepsi Sensori Pendengaran : - Telinga kiri klien tidak bisa mendengar dengan normal - Klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran Penglihatan : - Mata kiri klien tidak bisa melihat lagi Pengecapan, penghidu : - Gangguan indera pengecap tidak ada, klien dapat membedakan rasa makanan yang dimakan. - Klien tidak mengalami gangguan indera penghidu, klien dapat membedakan bau balsem dengan parfum Masalah keperawatan: tidak ada c. Sistem Pernafasan - Frekuensi : 20x/mnt - Kualitas : Normal - Batuk : Klien tidak mengalami batuk - Suara napas : Suara nafas bersih - Bunyi napas : Bunyi nafas klien vesikuler - Sumbatan jalan napas : Tidak adanya sumbatan jalan nafas Masalah keperawatan : tidak ada masalah d. Sistem Kardiovaskuler - Tekanan Darah : 100/70 mmHg - Denyut Nadi : 64 x/mnt - Irama : teratur - Bunyi Jantung: Normal, (lub dup) - Kekuatan : kuat - Pengisian kapiler : <3 detik - Edema : tidak terdapat edema pada klien Masalah Keperawatan : tidak ada masalah e. Sistem Saraf Pusat - Kesadaran : composmentis - GCS : E : 4 M : 6 V :5 ( GCS =15 ) - Bicara : klien berbicara pelo - Gaya Berjalan dan keseimbangan: klien dapat berjalan sendiri dan ditemani keluarga - Kekuatan Otot : derajat 5 (dapan menahan tahanan pemeriksa dengan kekuatan penuh) Masalah keperawatan : gangguan komunikasi verbal II. Saraf- Saraf Otak 1. Nervus Olfaktorius : Normal, klien bisa membedakan bau-bauan 2. Nervus Optikus : - Lapang Pandang: Mata kiri tidak bisa melihat - Fundus Oculli : Tidak ada edema - Reaksi Pupil : normal OD, OS tidak ada, namun klien mengatakan masih melihat cahaya Masalah Keperawatan: gangguan persepsi sensori; penglihatan 3. Nervus Oculomotoris, Trochealis, Abdusen (N. III, IV, VI) - Ptosis: normal - Gerakan bola mata : Klien tidak bisa menggeerakan mata kiri/OS ke sisi kiri Diplopia : (-) tidak ada bayangan Pupil : OD isokor / OS tidak ada reaksi Reflek pupil : OD cepat / OS lambat Masalah Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; penglihatan mata kiri 4. Nervus Trigeminus (N.V) Motorik: Mengunyah : Tidak bisa Mengigit : Tidak bisa sempurna Membuka mulut : Bisa Sensorik (sensitivitas): Wajah : - Rasa Raba: Kanan normal / kiri tidak peka terhadap rabaan pada wajah sampai dagu - Nyeri: kanan + / kiri – (pada wajah sampai kiri) - Pipi: Ka/Ki +/- Masalah Keperawatan : gangguan (motorik) : mengunyah, gangguan persepsi sensori; rabaan 5. Nervus Fasialis (VII) Motorik: - Mengerutkan dahi : Klien bisa mengerutkan dahi - Suara Arlogi : +/- - Keseimbangan : Dapat berdiri sendiri Masalah Keperawatan: Gangguan persepsi Sensori; Pendengaran 6. Nervus Glossofaringeus - Disartia : Cadel : klien berbicara cadel/pelo - Disfagia : Klien mengeluh susah menelan - Reflek muntah: + Reflek batuk: + Masalah Keperawatan: gangguan komunikasi verbal 7. Nervus Vagus (N X) - Posisi Ovula : di tengah - Disartia : + (pelo/cadel) - Reflek menelan : Klien mengatakan nyeri saat menelan, tenggorokan terasa sempit Masalah Keperawatan: Gangguan menelan, gangguan komunikasi verbal 8. Nervus Aksesorius (XI) - Memutar Kepala: Klien bisa memutar kepala - Mengangkat bahu: Klien bisa mengangkat bahu Masalah Keperawatan: TAK 9. Nervus Hipoglosus - Menjulurkan lidah dan menarik kembali : klien bisa menjulurkan dan menarik lidahnya - Disatria: klien bicara cadel/pelo Masalah Keperawatan: gangguan komunikasi verbal Kesimpulan - GCS : E=4, M=6, V=5 (15 = Composmentis/sadar penuh) - Koordinasi: Baik, keseimbangan klien baik - Kekuatan Otot: Derajat 5 (Bisa melawan tahanan) - Gaya berjalan: tegap f. Sistem Gastrointestinal - Nafsu makan : klien mengatakan nafsu makannya tetap seperti biasa - Diet : NL (Nasi Lunak) - Porsi makan : Klien menghabiskan 1/2 – 3/4 porsi makanan yang diberikan Porsi makan Dirumah : 1 Piring Dihabiskan - Keluhan : klien mengatakan susah mengunyah dan sakit saat menelan - Bibir : normal, bibir klien tidak mengalami kering dan pecah-pecah - Mulut dan tenggorokan : normal, tidak terdapat adanya lesi dan hematemesis - Kemampuan menelan : klien mengatakan ia nyeri saat menelan dan tenggorokan terasa sempit - Perut : - normal dengan frekuensi bising usus 4-5 x/ menit - tidak terdapat massa dan nyeri tekan - Colon dan Rektum : - BAB 1x/hari Masalah keperawatan : Gangguan pemenuhan nutrisi g. Sistem Muskuluskeletal - Rentang gerak : penuh - Keseimbangan dan cara jalan : Tegap - Kemampuan memenuhi aktivitas sehari-hari : klien memenuhi aktivitas sehari-hari dengan bantuan suami - Genggaman tangan : kuat, kanan/kiri - Otot kaki : Sama kuat, kanan / kiri - Akral : hangat, suhu: 37,10C - Fraktur : tidak ada Masalah keperawatan : intoleransi aktivitas h. Sistem Integumen - Warna kulit : normal, tidak terdapat pucat, sianosis dan ikterik pada kulit klien - Turgor : turgor kulit baik - Luka : tidak ada luka di tubuh pasien - Memar : tidak ada memar - Kemerahan : tidak ada - Suhu tubuh : 37,1o C Masalah keperawatan : TAK i. Sistem Reproduksi - Infertil : Tidak infeltil, klien mempunyai 4 orang anak - Masalah menstruasi: tidak ada Masalah keperawatan : tidak ada masalah j. Sistem Perkemihan - Urine : ± 1000 ml/24 jam - warna urine bening, kadang kuning jernih - Pancaran urine kuat - BAK : - Normal dengan frekuensi 4 - 5 x/hari - klien tidak mengalami disuria, nokturia, retensi dan hematuria - Vesica urinaria : - klien mengatakan tidak merasa nyeri saat dilakukan penekanan (palpasi) pada daerah vesica urinaria Masalah keperawatan : tidak ada masalah 3. Data Penunjang - CT scan: hasil didapatkan tumor di intra kanial klien - Mikroskopi Patologi pada potongan sel di nasofaring : positif Ca nasofaring Stage III Tahun 2009 Riwayat pengobatan dan alergi : a. Riwayat pengobatan : Klien tidak mendapat pengobatan tertentu b. Riwayat alergi : Klien tidak mengalami alergi terhadap makanan dan obat-obat tertentu 4. Terapi yang diberikan Obat Indikasi Golongan Dosis/Jenis Obat Cefadroxil Untuk pengobatan infeksi oleh mikroorganisme seperti infeksi saluran pernafasan tonsillitis, faringitis, pneumonia, osteomielitis dll Antibiotik 2x1 tab (500mg) Asam Mefenamat Untuk menghilangkan rasa nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang berhubungan denga sakit kepala, gigi, disminore, nyeri trauma, sendi, otot, sehabis operasi persalinan Analgetik 3x1 tablet (500mg) Vitamin B Complex Untuk defisiensi vitamin B Kompleks Vitamin 2x1 tablet Ophthalmic Ointment (hydrochloride equivalen, ciprofloxacin) Obat mata antibacterial / sulphonamides. Ex: staphylococcus, epidermidis, streptococcus Antibiotik/antibakteri 2x1 drop to eyes Cendo Lyteers (ion natrium & Kalium dg Benzalkonuium Cl Sebagai emolien/pelembut & pengganti air mata untuk pemakai lensa kontak dan kekeurangan air mata, lubricant/pelican air mata buatan, Emiolien 1-2 tetes PENGKAJIAN MASALAH PSIKOSOSIO DAN SPIRITUAL PSIKOLOGIS Klien mengatakan ingin cepat sembuh. SOSIAL Klien mengatakan sehari-hari bekerja di rumah menjaga anak dan membereskan rumah sebagaimana ibu rumah tangga yang lainnya. SPIRITUAL Klien mengatakan kadang – kadang melakukan ibadah sholat sehari – hari, selama dirawat klien tidak pernah melakukan ibadah solah atau juga ibadah lainnya. Masalah Keperawatan dan Prioritas Masalah : 1. Nyeri 2. Gangguan Pemenuhan Nutrisi tubuh 3. Gangguan Persepsi Sensori; Penglihatan 4. Gangguan Persepsi Sensori; Pendengaran 5. Gangguan Komunikasi Verbal DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri b.d Peningkatan TIK 2. Gangguan Pemenuhan Nutrisi Tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah 3. Gangguan Persepsi Sensori; Penglihatan b.d Kerusakan mata kiri 4. Gangguan Persepsi Sensori; Pendengaran b.d Kerusakan telinga kiri 5. Gangguan Komunikasi Verbal b.d Disatria ANALISA DATA Nama Klien : Ny. “Rs” Diagnosa medis : Ca nasofaringeus + SOL Jenis Kelamin : Pr No. Med. Reg : 687803 No Kamar/bed : 2. 2 Hari/tanggal : Senin/27 januari 2013 No Data Senjang Etiologi Masalah Keperawatan Paraf 1 Ds: - Klien mengatakan nafsu makannya baik namun klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah - Klien mengatakan berat badannya menurun dibandingkan sebelum sakit Do: -Klien makan 1/2 - 3/4 porsi -Klien makan makanan yang lunak/bubur -Klien terlihat makan secara perlahan dan minum agar membantu makanan masuk -BB : 40 kg Ca. Nasofaring yang meluas/metatase ke intra cranial, faktor-faktor pencetus pencetus Masuk kejaringan otak Inflamasi Otak Pertumbuhan sel abnormal Tumor otak / SOL Menekan jaringan otak Suplai O2 ke otak menurun Hipoksia serebral Kematian sel-sel Otak Kerusakan sel saraf V Rahang atas dan bawah miring Kesulitan menelan, mengunyah, mengigit Kesulitan makan Pemenuhan nutrisi menuurun Gangguan Pemenuhan Nutrisi Gangguan Pemenuhan Nutrisi Co ners STIK Bina Husada ANALISA DATA No Data Senjang Etiologi Masalah Keperawatan Paraf 2 Ds : - Klien mengeluh nyeri pada kepala dan matanya seperti ketarik - Klien mengatakan nyeri ini tiba-tiba muncul dan hilang Do: - Klien tampak memegangi keningnya - Klien Tampak gelisah - Skala nyeri 5 (sedang) - Klien terlihatt mengeryitkan keningnya sesekali TD: 100/70 mmHg N: 64x/menit RR: 20x/mnt T : 37,10C Penurunan Suplai o2 ke jaringan otak Hipoksia serebral Peningkatan TIK Merangsang Reseptor Nyeri B.P.H Impuls Afferent Medula Spinalis Korteks Serebri Impuls Efferent Persepsi nyeri Nyeri Nyeri RENCANA KEPERWATAN Nama Klien : Ny “Rs” Diagnosa medis : Ca Nasofaringeus + SOL Jenis Kelamin : Pr No. Med. Reg : 687803 No Kamar/bed : 2.2 Hari/tanggal : Senin/27 Januari 2012 No Diagnosa Keperawatan Jam Tujuan (SMART) Intervensi Rasionalisasi 1 Gangguan Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah Ds: - Klien mengatakan nafsu makannya baik namun klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah - Klien mengatakan berat badannya menurun dibandingkan sebelum sakit Do: -Klien makan 1/2 - 3/4 porsi -Klien makan makanan yang lunak/bubur -Klien terlihat makan secara perlahan dan minum agar membantu makanan masuk -BB : 40 kg -Klien tampak lesu 17.00 Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan kriteria hasil : -Klien menghabiskan makanannya -Klien tidak mengeluh Sulit menelan dan mengunyah -Klien makan makanan pedamping -BB klien naik 1-2kg - klien tampak bertenaga 1. Kaji pola makan klien (banyaknya makanan, jenis makanan, bentuk makanan) 2. Kaji kemampuan menelan dan mengunyah klien 3. Timbang BB klien setiap hari 4. Anjurkan klien makan makanan yang lunak 5. Anjurkan klien makan sedikit-dikit dan sering 6. Anjurkan Klien makan makanan lain sebagai pendamping 7. kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian nutrisi klien 1. Menuntuka status nutrisi klien yang dikonsumsi klien sehari-hari 2. Menentukan jenis makanan yang akan diberikan ke klien 3. Mengetahui perkembangan status gizi klien 4. Memudahkan makanan masuk dan dicerna dalam tubuh 5. Mengefektifkan penambahan kebutuhan nutrisi klien 6. Menambah makanan/kalori kebutuhan nutrisi klien 7. Ahli gizi menentukan jenis makanan, jumlah makanan, bentuk makanan sesuai kondisi dan penyakit pasien RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Keperawatan Jam Tujuan (SMART) Intervensi Rasionalisasi 2 Nyeri b.d peningkatan TIK Ds : - Klien mengeluh nyeri pada kepala dan matanya seperti ketarik - Klien mengatakan nyeri ini tiba-tiba muncul dan hilang Do: - Klien tampak memegangi keningnya - Klien Tampak gelisah - Skala nyeri 5 (sedang) - Klien terlihatt mengeryitkan keningnya sesekali TD: 100/70 mmHg N: 64x/menit RR: 20x/mnt T : 37,10C 17.08 Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil: - Nyeri berkurang, Skala nyeri ringan (1-3) - Klien tidak mengeluhkan nyeri - Klien tampak tenang - Klien mengerti cara mengatasi nyeri 1. Kaji Nyeri (Skala, lokasi, intensitas, durasi) 2. Observasi TTV klien dan keadaan umum klien 3. Anjurkan klien untuk beristirahat 4. Berikan lingkungan yang nyaman 5. Berikan Kantong es dan letakan pada lokasi nyeri 6. Ajarkan teknik nafas dalam dengan menarik nafas dalam melalui hidung, menahan beberapa detik dan menghembuskanya dari mulut dengan perlahan 7. kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgesik 1. Menentukan tingkat keparahan nyeri dan menentukan rencana tindakan selanjutnya 2. Melihat status klien dan perkembangan nyeri 3. istirahat dapat memulihkan kerja anggota tubuh klien sehingga nyeri dapat berkurang 4. Memudahkan klien untuk beristirahat 5. Es dapat membuat proses vasokontriksi saraf sehingga impuls nyeri sensori berkurang 6. Merelaksasikan klien dengn kecukupan O2 dalam tubuh sehingga nyeri berkurang 7. Analgesik adalah obat untuk meredahkan/menghilangkan nyeri IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama Klien : Ny “Rs” Diagnosa medis : Ca Nasofaringeus + SOL Jenis Kelamin : Pr No. Med. Reg : 687803 No Kamar/bed : 2.2 Hari/tanggal : Senin/27 Januari 2013 No Diagnosa Keperawatan Jam Tindakan Keperawatan Respon Nama dan paraf perawat 1 Gangguan Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah 17.40 1. Mengkaji pola makan klien (banyaknya makanan, jenis makanan, bentuk makanan) 2. Mengkaji kemampuan menelan dan mengunyah klien 3. Menimbang BB klien setiap hari 4. Menganjurkan klien makan makanan yang lunak 5. Menganjurkan klien makan sedikit-dikit dan sering 6. Menganjurkan klien makan makanan lain sebagai pendamping 7. Kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian nutrisi klien 1. Klien makan 1/2 – 3/4 porsi makan, klien makan makanan lunak, makanan TKTP 2. Klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah 3. BB 40 kg lebih kurus dari sebelum sakit 4. Klien makan bubur/lunak 5. Klien makan sedikit dan sering 6. Klien menambah makan dengan makan roti yang dilembutkan 7. Klien minum obat secara teratur. Obat yang diberikan ex: Asam mefenamat 3x500mg Co Ners Bina Husada 2012 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN No Diagnosa Keperawatan Jam Tindakan Keperawatan Respon Nama dan paraf perawat 2 Nyeri b.d peningkatan TIK 18.00 1. Mengkaji Nyeri (Skala, lokasi, intensitas, durasi) 2. Mengobservasi TTV klien dan keadaan umum klien 3. Menganjurkan klien untuk beristirahat 4. Memberikan lingkungan yang nyaman 6. Mengajarkan teknik nafas dalam dengan menarik nafas dalam melalui hidung, menahan beberapa detik dan menghembuskanya dari mulut dengan perlahan 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgesik 1. Klien mengeluh nyeri di kepala dan di dekat matanya seperti ditarik-tarik, nyeri hilang dan timbul dan sering nyeri 2. TTV : TD: 100/70 mmHg N: 64x/menit RR: 20x/mnt T : 37,10C 3. Klien beristirahat/tidur dengan nyaman 4. Keluarga pasien dan pasien lain tidak membuat keadaan ruangan gaduh 6. Klien mengikuti teknik nafas dalam dengan menarik nafas dalam melalui hidung, menahan beberapa detik dan menghembuskanya dari mulut dengan perlahan 7. Klien meminum obat secara teratur Asam Mefenamat untuk menghilangkan nyeri, CATATAN PERKEMBANGAN I Nama klien : Ny “Rs” Diagnosa Medis : Ca Nasofaringeus + SOL Jenis Kelamin : Pr No. Med. Reg : 687803 No. kamar/bed : 2.2 Hari/Tanggal : Selasa/28 januari 2013 No Diagnosa Keperawatan jam Catatan Perkembangan Nama dan Paraf Perawat 1 Gangguan Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah S: - Klien mengatakan tidak ada perubahan pada nafsu makannya - Klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah - Klien mengatakan harus memakai kuah atau air minum untuk memudahkan menelan makanan. O: -Klien menghabis makan 3/4 porsi -Klien makan makanan yang lunak/bubur -Klien terlihat makan secara perlahan dan minum agar membantu makanan masuk - BB klien tidak berubah BB : 40 kg - Klien makan buah dan makanan kecil A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan Intervensi 1,2,,3,4,5,6,7 I : 1. Mengkaji pola makan klien (banyaknya makanan, jenis makanan, bentuk makanan) 2. Mengkaji kemampuan menelan dan mengunyah klien 3. Menimbang BB klien setiap hari 4. Menganjurkan klien makan makanan yang lunak 5. Menganjurkan klien makan sedikit-dikit dan sering 6. Menganjurkan klien makan makanan lain sebagai pendamping 7. Kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian nutrisi klien E: - Klien mengatakan nafsu makannya baik tetapi klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah, klien menghabis makan 3/4 porsi dan makanannya lunak/bubur - BB klien tidak berubah : 40 kg - Klien makan buah dan makanan kecil 2 Nyeri b.d PeningkatanTIK S : - Klien mengeluh nyeri pada kepala dan matanya seperti ketarik - Klien mengatakan nyeri ini tiba-tiba muncul dan hilang - Klien mengatakan sudah meminum obat O: - Klien tampak Lesu - Klien tampak tak bertenaga - Klien istirahat di tempat tidurnya - Skala nyeri 5 (sedang) - Klien terlihat memegangi keningnya serta memijatnya TD: 90/70 mmHg N: 68x/menit RR: 20x/mnt T : 37,30C I: 1. Mengkaji Nyeri (Skala, lokasi, intensitas, durasi) 2. Mengobservasi TTV klien dan keadaan umum klien 3. Menganjurkan klien untuk beristirahat 4. Memberikan lingkungan yang nyaman 6. Mengajarkan teknik nafas dalam dengan menarik nafas dalam melalui hidung, menahan beberapa detik dan menghembuskanya dari mulut dengan perlahan 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgesic E: Klien masih mengeluh nyeri di mata dan kepala bagian depan. Skala nyeri 5. Nyeri hilang dan timbul. Klien tidur/beristirahat CATATAN PERKEMBANGAN II No Diagnosa Keperawatan jam Catatan Perkembangan Nama dan Paraf Perawat 1 Gangguan Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah S: - Klien mengatakan tidak ada perubahan pada nafsu makannya - Klien mengatakan masih sakit saat menelan dan mengunyah - Klien mengatakan harus memakai kuah atau air minum untuk memudahkan menelan makanan. O: -Klien menghabis makan 1 porsi -Klien makan makanan yang lunak/bubur -Klien terlihat makan secara perlahan dan minum agar membantu makanan masuk - BB klien tidak berubah BB : 40 kg - Klien makan buah dan makanan kecil A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan Intervensi 1,2,,3,4,5,6,7 I : 1. Mengkaji pola makan klien (banyaknya makanan, jenis makanan, bentuk makanan) 2. Mengkaji kemampuan menelan dan mengunyah klien 3. Menimbang BB klien setiap hari 4. Menganjurkan klien makan makanan yang lunak 5. Menganjurkan klien makan sedikit-dikit dan sering 6. Menganjurkan klien makan makanan lain sebagai pendamping 7. Kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian nutrisi klien E: - Klien mengatakan nafsu makannya baik tetapi klien kesulitan untuk menelan dan mengunyah, klien menghabis makan 3/4 porsi dan makanannya lunak/bubur - BB klien tidak berubah : 40 kg - Klien makan buah dan makanan kecil 2 Nyeri b.d PeningkatanTIK S: - Klien mengatakan nyeri pada kepala dan matanya belum hilang - Klien mengatakan nyeri ini hilang dan timbul - Klien mengatakan sudah minum obat secar teratur O: - Klien tampak memegangi keningnya dan mengurutnya - Klien kampak lesu, gelisah - Skala nyeri 4 (sedang) - Klien terlihat mengeryitkan keningnya sesekali TD: 110/80 mmHg N: 60x/menit RR: 20x/mnt T : 36,80C - Klien beristirahat di tempat tidurnya A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,6 I: 1. Mengkaji Nyeri (Skala, lokasi, intensitas, durasi) 2. Mengobservasi TTV klien dan keadaan umum klien 3. Menganjurkan klien untuk beristirahat 4. Memberikan lingkungan yang nyaman 6. Mengajarkan teknik nafas dalam dengan menarik nafas dalam melalui hidung, menahan beberapa detik dan menghembuskanya dari mulut dengan perlahan 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgesic E: Klien masih merasakan nyeri pada kepala dan bagian mata, nyerinya hilang timbul, klien tampak lemah dan lesu, klien hanya beritirahat di tempat tidurnya EVALUASI KEPERAWATAN Nama Klien : Ny “Rs” Diagnosa medis : Ca Nasofaringeus + SOL Jenis Kelamin : Pr No. Med. Reg : 687803 No Kamar/bed : 2.2 Hari/tanggal : Kamis/30 Januari 2013 No Diagnosa Keperawatan Jam Evaluasi Nama dan paraf perawat 1 Gangguan Pemenuhan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kesulitan menelan dan mengunyah 20.00 S : - Klien mengatakan makannya habis - Klien mengatakan masih nyeri saat menelan dan mengunyah - Klien mengatakan makan roti yang dilunakkan O: -Klien menghabiskan makanan 1 porsi -Klien makan makanan yang lunak/bubur -BB : 40 kg -Klien makan roti bila masih lapar, minum susu dan buah-buahan A: Masalah Teratasi sebagian P: Lanjutkan Intervensi 1,2,3,4,5,6,7 2 Nyeri b.d Peningkatan TIK 20.15 S: - Klien mengatakan nyeri pada kepala dan matanya belum hilang - Klien mengatakan nyeri ini hilang dan timbul - Klien mengatakan sudah minum obat secar teratur O: - Klien tampak memegangi keningnya dan mengurutnya - Klien kampak lesu, gelisah - Skala nyeri 4 (sedang) - Klien terlihat mengeryitkan keningnya sesekali TD: 110/80 mmHg N: 60x/menit RR: 20x/mnt T : 36,80C - Klien beristirahat di tempat tidurnya A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,6 DAFTAR PUSTAKA Black, Joyce M. 1993. Medical Surgical Nursing. W.B Sainders Company : Philadelpia Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta. Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta Price, Sylvia A.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit Edisi 6 Vol.2. Jakarta:EGC Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta. Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta.

Selasa, 05 Februari 2013

Skipsi, Juni 2012 Ririn Charlina Analisa Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Teratai Rumah Sakit Tingkat II DR. A.K. Gani Kesdam/Sriwijaya Palembang Tahun 2012

ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIK) BINA HUSADA PALEMBANG PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN Skipsi, Juni 2012 Ririn Charlina Analisa Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Kepuasan Pasien di Ruang Teratai Rumah Sakit Tingkat II DR. A.K. Gani Kesdam/Sriwijaya Palembang Tahun 2012 (xv + 72 halaman + 5 Tabel + 12 lampiran) ABSTRAK Komunikasi antara perawat sangat penting dalam pelaksanaan praktik keperawatan, karena dengan komunikasi terapeutik yang baik perawat dapat mengetahui masalah, keluhan, perasaan, mengurangi beban dan mengevaluasi tindakan yang akan dilakukan perawat selanjutnya serta dapat mempererat hubungan perawat-pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di Ruang Teratai RS Tingkat II DR. A.K. Gani Kesdam/Sriwijaya Palembang Tahun 2012. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian analitik crossectional dan menggunakan accidental sampling. Subjek penelitiannya adalah pasien di Ruang Teratai Rumah Sakit Tingkat II DR. AK. Gani Palembang. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2012. Hasil penelitian ini diketahui bahwa responden mengatakan komunikasi terapeutik perawat adalah baik sebanyak 26 orang (74,3%), kurang baik sebanyak 9 orang (25,7%) dan tingkat kepuasan pasien yakni responden/pasien merasa cukup puas sebanyak 12 orang (34,3%) dan puas sebanyak 23 orang (65,7%). Nilai significancy adalah 0,038 untuk 2-sided dan 0,026 untuk 1-sided. Karena nilai p value < 0,05 artinya ada hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kepuasan pasien. Dan nilai OR yaitu 6,7 yakni komunikasi terapeutik perawat yang baik mempunyai kemungkinan 6,7 kali pasien/responden akan merasa puas. Kata Kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Pasien Daftar pustaka : 31 (2006-2012)

Jumat, 27 April 2012

BE5T - Always thinking about You

Always think about you
Always think about you
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Oh baby ku cinta kamu
Setiap hari memikirkanmu
Oh baby ku ingin selalu
Memeluk kamu dan cium kamu

Kau bagaikan pelangi
Mewarnai hariku selalu
Dengan cinta cinta cinta oh oh

Everytime always think about you
Always think about you, always think about you u u u
Always think about you, always think about you
Always think about you u u u

Duuu duuu duuu always think about you
Duuu duuu duuu always think about you
Duuu duuu duuu always think about you

Oh baby ku tergila-gila
Pada dirimu karena kamu
Buat aku jatuh cinta
Buat aku bahagia

Kau bagaikan pelangi
Mewarnai hariku selalu
Dengan cinta cinta cinta oh oh

Everytime always think about you
Always think about you, always think about you u u u
Always think about you, always think about you
Always think about you u u u

Duuu duuu duuu always think about you
Duuu duuu duuu always think about you

Terima kasih cinta
Kau berikan dia dia dia dia dia

Everytime always think about you
Always think about you, always think about you u u u
Always think about you, always think about you
Always think about you u u u

Minggu, 04 Maret 2012

Komunikasi Terapeutik

2.4. Pengertian Komunikasi
Taylor, dkk (1993) menyatakan bahwa komunikasi adalah merupkan proses pertukaran inforrmasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti.
Komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau meneruskan makna atau arti. (Musliha dan Siti Fatmawati : 2009).
Tappen (1995) mendefinisika bahwa komunikasi adalah suatu pertukan pikiran, perasaan, pendapat dan pemberian nasihat yang terjadi anatara dua orang atau lebih yang bekerja sama.
Harorld koont dan CYRIL o’Donell mengemukakan penngertian komunikasi adalah pemindahan informasi dari satu orang ke orang lain terlepas percaya atau tidak.
Wiliam Albig mendefinisikan komunikasi adalah proses pengoperasian lambing-lambang yang mengandung pengertian antara individu-individu.
Menurut Dole Yoder dkk kata communication berasal dari sumber yang sama seperti common yang berarti bersama, bersama-sama dalam membagi ide. Apabila seseorang berbicara, orang lainnya mendengarkan.
Dari uraian di atas dapat disimpukan bahwa komunikasi adalah :
1. Komunikasi dilakukan oleh dua orang atau lebih
2. Komunikasi merupakan pembagian ide, pikiran, fakta, pendapat
3. Komunikasi melalui lambing-lambang yang harus dimengerti oleh yang melakukan komunikasi.
Oxford dictionary, 1956 menjelaskan komunikasi adalh pengiriman atau tukar-menukar informasi ide dan sebagainya.
Human relation at work, Keth Davis menyebutkan komunikasi adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain.
Sedangkan Drs. Onong Uchjana Effendy, MA menyebutkan komunikasi mencakup ekspresi wajah, sikap, gerak-gerik suara, kata-kata tertulis, percetakan, kereta apil, telegraf, telepon, dan lain-lain

2.4.2. Komponen Komunikasi
Menurut Potter dan Perry (1993) komunikasi mempunyai 6 komponen yaitu :
1. Komunikator : Penyampai informmasi atau sumber informasi
2. Komunikan : penerima informasi, memberi respon terhadap stimulus yang disampaikan komunikator.
3. Pesan : gagasan atau pendapat, informasi atau stimulus yang disampaikan.
4. Media Komunikasi: Saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan
5. Kegiatan “Encoding” : Perumusan pesan oleh komunikator sebelum disampaikan kepada komunikan.
6. Kegiatan “Decoding” : Penafsiran pesan oleh komunikan pada saat meneria pesan.

Menurut Karyowo, 1994, komponen komunikasi terdiri dari :
1. Komunikator (Pembawa Berita)
Bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi sasarannya.
2. Message (pesan atau berita)
Berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambing-lambang, pembicaraan, gerakan, dan sebagainya.
3. Channel (media atau sarana)
Saran tempat berlakunya lambing-lambang. Salauran tersebut meliputi :
- Pendengaran (lambing berupa pesan)
- Penglihatan (lambing berupa sinar, pantulan sinar, dan gambar)
- Penciuman ( lambing-lambang yang berupa rangsangan bau-bauan)
- Rabaan (lambing-lambang yang berupa rangsangan rabaan)
4. Komunikan (penerima pesan)
5. Feed back (umpan balik atau tanggapan).

2.4.3. Bentuk komunikasi
2.4.3.1. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal menggunakan kata yang ditulis ataupun diucapkan. Bahasa verbal merupakan kode yang menyampaikan arti spesifik melalui kombinasi kata. Komunikasi verbal karakteristik jelas dan ringkas. Perbendaharaan kata mudah dimengerti, mempunyai arti denotative dan konotatif, intonasi mampu mempengaruhi isi pesan, kecepatan bicara yang memiliki tempo dan jeda yang tepat, serta disertaii unsure humor.
2.4.3.2. Komunikasi non Verbal
Komunikasi non verbal mencakup seluruh indera dan semua hal yang tidak melibatkan kata tertulis ataupun ucapan. Stuart dan Sudden dalam Suryani (2006) mengatakan bahwa sekitar 7% pemahaman dapat ditimbulkan karena kata-kata, sekitar 30% karena bahasa paralinguistic dan 55% karena bahasa tubuh. Komunikasi non verbal dapat disampaikan melalui beberapa cara, yaitu penampilan fisik, sikap tubuh dan cara berjalan, ekspresi wajah, dan sentuhan.

2.4.4. Tingkatan Komunikasi
- Komunikasi Intrapersonal, komunikasi intrapersonal merupakan bentuk komunikasi di dalam diri individu. Tingkat komunikasi ini dikenal juga sebagai berbicara dengan diri sendiri (self-talk), verbalisasi, dan pikiran dalam hati (Blazer Riley, 2004).
- Komunikasi interpersonal, komunikasi interpersonal merupakan interaksi antara perawat dengan pihak lain yang sering terjadi saat berhadapan langsung.
Perawat yang memiliki keahlian berkomunikasi akan mengekspresikan kepedulian dengan criteria berikut Watson, 1985):
- Sensitive terhadap dirinya dan orang lain.
- Mendukung dan menerima ekspresi dari perasaan yang positif dan negative
- Membina hubungan saling percaya (helping-trust-realetionship)
- Menanamkan rasa keyakinan dan harapan
- Mendorong pengajaran dan pembelajaran interpersonal
- Menyediakan lingkungan yang supportif
- Menggizinkan ekspresi spiritual.
- Komunikasi Transpersonal, komunikasi transpersonal merupakan interaksi yang terjadi pada wilayah spiriyual seseorang.
- Komunikasi Kelompok Kecil, Komunikasi kelompok kecil merupakn interaksi yang terjadi saat kelompok kecil individu bertemu.
- Komunikasi Publik, komunikasi public merupakan interaksi dengan pendengar. Perawat memiliki kesempatan untuk berbicara dengan sekelompok orang tentang topic kesehatan, menyajikan hasil ilmiah kepada sejawat di konferensi, atau memimpin diskusi kelas dengan teman atau siswa.

2.5. Komunikasi Terapeutik
2.5.1. Pengertian Komunikasi Terapeutik
Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni penyembuhan (As Horrnby dalam Intan, 2005). Maka dapat diartikan komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan/pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional bagi perawat.
Komunikasi terapeutik adalah komuikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997).
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 : 48).


2.5.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Indrawati (2003 :48) :
- Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien percaya pada hal yang diperlukan.
- Mengurangi keraguan membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
- Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) :
- Kesadaran diri
- Klarifikasi nilai
- Eksplorasi perasaan
- Kemampuan untuk menjadi model peran.
- Motivasi altruistic
- Rasa tanggung jawab dan etik.

2.5.3. Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat Komunikasi Terapeutik (Christina, dkk., 2003) adalah :
1. Mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dengan pasien melalui hubungan perawat-klien
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan, dan mengkaji masalah dan mengevaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

2.5.4. Sikap Komunikasi Terapeutik
Egan (dalam Keliat, 1992), mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik, yaitu :
a. Berhadapan. Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda.
b. Mempertahankan kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. membungkuk ke arah klien;
Posisi ini menunjukkan keinginann untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.
d. Memperlihatkan sikap terbuka,
Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi san siap membantu.
e. Tetap rileks, Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien, meskipun dalam situasi yang kurang menyenagkan.
2.5.5. Teknik-teknik Komunikasi Terapeutik
Beberapa teknik komunikasi terapeutik menurut Wilson dan Kneist (1992) serta Stuart dan Sudeen (1998) antara lain;
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dalam hal ini perawat berusaha mangeti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Satu-satunya orang yang dapat menceritakan kepada perawat tentang kepada perawat tentang perasaan, pikiran dan persepsi klien adalah klien sendiri.
Sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pendengar yang baik adalah : pandangan saat berbicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan, hindari tindakan yang tidak perlu, anggukankepala jjika klien membicarakan hal-hal yang penting atau memerlukan umpan balik, condongkan tubuh kea rah lawan bicara.
Mendengar ada dua macam :
- Mendengar pasif;
Kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal untuk klien misalnya dengan kontak mata, menggunakan kepala dan juga keikutsertaan secara verbal.
- Mendengar aktif;
Kegiatan mendengar yang menyediakan pengetahuan bahwa kita tahu perasaan orang lain dan mengerti mengapa dia merasakan hal tersebut.
2. Menunjukkan penerimaan.
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Perawat harus waspada terhadap ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menyatakan tidak setuju, seperti mengerutkan kening dan menggeleng yang menyatakan tidak percaya.
Berikut adalah sikap perawat yang menyatakan penerimaan :
Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan, memberikan umpan balik verbal yang menyatakan pengertian, memastikan bahwa isyarat non verbal cocok dengan komunikasi verbal, menghindari perdebatan, ekspresi keraguan atau usaha untuk mengubah pikiran klien.
3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikann oleh klien. Oleh karena itu, pertanyaan sebaiknya dikaitkan dengan topic yang dibicarakan dan gunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks sosial budaya klien. Contoh : ”Tadi anda katakana anda memiliki 3 orang saudara, siapa yang anad rasakan palaing dekat dengan anda?”
4. Pertanyaan terbuka (Open-Ended Question)
Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban “Ya” atau “Mungkin”, tetapi pertanyaan memerlukan jawaban yang luas, sehingga pasien dapat mengemukakan masalahnya, perasaannya dengan kata-kata sendiri, atau dapat memberikan informasi yang diperlukan.
5. Mengulang Ucapan Klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Contoh :
Klien : “ Saya tidak dapat tidur, sepanjang malam saya terjaga.”
Pearawat : “ Saudara mengalami kesulitan untuk tidur …”
6. Mengklarifikasi. Klarifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata, idea tau pikiran (implicit maupun eksplisit) yang tidak jelas dikatakan oleh klien. Tujuan dari teknik ini adalah untuk menyamakan pengertian. Contoh :
Perawat: “Saya tidak yakin saya mengikuti apa yang anda katakana,” atau “Apa yang anda maksudkan dengan ….?”
7. Memfokuskan.
Fokusing; Fokusing adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti, Stuart & Sundeen, cit Nurjanah (2001).
8. Menyatakan hasil Observasi.
Observasi; Observasi merupakan kegiatan mengamati klien/orang lain. Observasi dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal klien dan saat tingkah laku verbal dan non verbal nyata dan tidak biasa ada pada klien, Stuart & Sundeen, cit Nurjanah (2001). Observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.
9. Menawarkan informasi; Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan, dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan, Stuart & Sundeen, cit, Nurjanah, (2001). Penahanan informasi pada saat klien membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah menasehati klien pada saat memberikan informasi.
10. Diam (memelihara ketenangan); Diam dilakukan dengan tujuan mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. Kediaman ini akan bermanfaat pada saat klien mengalami kesulitan untuk membagi persepsinya dengan perawat. Diam tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama karena akan mengakibatkan klien menjadi khawatir. Diam dapat juga diartikan sebagai mengerti, atau marah. Diam disini juga menunjukkan kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berpikir, meskipun begitu diam yang tidak tepat menyebabkan orang lain merasa cemas.
11. Meringkas.
Meringkas adalah pengulangan ide utama telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topic yang telah dibahas sebelum meneruskan pembicaraan berikutnya.
12. Memberikan penghargaan.
Penghargaan jangan jadi beban bagi klien. Dalam arti sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya.
13. Menawarkan diri
Offering Sel (menawarakan diri); Menawarkan diri adalah menyediakan diri anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan, (Schultz & Videbeck, 1998).


14. Memberikan kesempatan pada klien untuk memulai pembiaraan.
Memberikan kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topic pembicaraan. Bila klien masih ragu-ragu dan tidak pasti tentang perannya dalam interaksi, pearawat dapat menstimulusnya untuk mengambil inisiatif dan merasakan bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan. Contoh
Perawat : ”Adakah sesuatu yang ingin anda bicarakan ?” Atau
“ Apakah yang sedang anda pikirkan ?”
15. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. Teknik ini mengidentifikasikan bahwa perawat mengikuti apa yang dibicarakan dan tertarik demgan apa yang dibicarakan selanjutnya. Contoh :
Perawat : “..Terus.. “ atau” dan kemudian… “ Atau ”Coba ceritakan kepada saya tentang hal tersebut.”
16. Menempatkan Kejadian secara urutan
Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu keperawatan dank lien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Atau Placing the time in time/sequence (penempatan urutan/waktu); Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian lain. Teknik bernilai terapeutik apabila perawat dapat mengeksplorasi klien dan memahami masalah yang penting. Tehnik ini menjadi tidak terapeutik bila perawat memberikan nasehat, meyakinkan atau tidak mengakui klien. Contoh :
Perawat : “ Apakah yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian tersebut?” Atau “Kapan kejadian tersebut terjadi?”
17. Memberikan kesempatan klien untuk menguraikan persepsinya.
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesuatunya dari pperspektif klien. Klien harus meras bebas untuk menguraikan persepsinya kepada perawat. Contoh :
Perawat : “ Coba ceritakan kepada saya bagaimana perasaan saudara saat akan dioperasi.”
18. Refleksi
Refleksi ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan pearasaanya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Dengan demikan perawat mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dank lien mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya, membuat keputusan, dan memikirkan dirinya sendiri. Contoh :
Klien : ”Apakah menurut anda saya harus mengatakan kepada dokter?”
Perawat :” Apakah menurut anda sendiri anda harus mengatakannya?”
19. Assertive: Assertive adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain. Kemampuan asertif menurut Smith, 1992 : berbicara jelas, mampu menghadapi manipulasi pihak lain tanpa menyakiti hatinyya (berani mengatakan tidak tanpa merasa bersalah), melindungi diri dari kritik.
20. Humor; Dugan (1989) menyebutkan humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan: tertawa mengurangi keteganan dan rasa sakit akibat stress, serat meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan. Sementara Sullivan –Deane (1998) mmenyatakan bahwa humor merangasang produksi katekolamin sehingga seorang yang merasa sehat, dan hal ini akan meningkatkan toleransi nyeri, mengurangi kecemasan serta memfasilitasi relaksasi dan meningkatkan metabolism. Contoh :
Perawat : “Saya anggota PDIP lo, (Penurunan Daya Ingat Progresif).”

2.6. Unsur Komunikasi Profesional
Penampilan dan perilaku professional sangat pentinng dalam membangun kepercayaan klien dan kompetensi perawat. Perilaku professional harus menggambarkan kehangatan, kepercayaan diri, dan kompetensi. Profesional berbicara dengan suara yang jelas,nggunakan tata bahasa yang baik, mendengarkan orang lain, membantu sejawat, dan berkomunikasi secara efektif.
- Keramahan, keramahan merupakan bagian dari komunikasi professional. Untuk melatih keramahan, perawat dapat menyapa klien, mengetuk pintu sebelum masuk, dan memperkenalkan diri.
- Penggunaan nama, Pengenalan diri merupakan yang penting. Kealpaan menyebutkan nama, status (contoh : perawat terdaftar atau perawat berlisensi), atau merujuk kepada klien akan menciptakan suatu keraguan tentang interaksi, dan menyampaikan ketiadaan komitmen atau perhatian. Kontak mata dan senyuman akan menimbulkan rasa hormat.
- Dapat dipercaya, kepercayaan adalah ketergantungan pada seseorang tanpa keraguan atau pertanyaan.
- Otonomi and tanggung jawab, Otonomi adalah kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri dan kemandirian dalam mencapai tujuan dan membantu pihak lain. Perawat professional membuat pilihan dan menerima tanggung jawab atas hasil tindakannya (Townsend, 2003)
- Asertif, Komunikasi aserttif memungkinkan perawat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran tanpa menuduh dan melukai orang lain (Grover, 2005).

SAP Anemia

SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Tema : Anemia Fe pada bayi dan Anak
Sub Pokok Bahasan : - Pengertian Anemia
- Gejala Anemia Ringan, sedang, dan Berat
- Penyebab Anemia Fe
- Pencegahan Anemia Fe
Hari/ Tanggal : Kamis/7 April 2011
Waktu : 10.00 wib
Penyaji : Mahasiswa STIK Bina Husada Palembang
Sasaran : Keluarga pasien di Intra kesehatan Anak Sayap A RSUP Mohammad Hoesin Palembang

A. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan di intra Kesehatan Anak Sayap A RSUP dr Mohammad Hoesin Palembang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan keluarga pasien dalam mengatasi Anemia pada bayi dan anak
2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan di intra kesehatan Anak Sayap A RSUP DR. Mohammad Hoesin Palembang diharapkan :
a. Keluarga pasien dapat mengetahui apa pengertian dari anemia
b. Keluarga Pasien dapat mengetahui gejala pada anemia Fe
c. Keluarga pasien dapat mengetahui penyebab dari anemia Fe
d. Keluarga Pasien mengetahui pencegahan anemia Fe


B.. GARIS BESAR MATERI
- Pengertian Anemia
- Gejala pada Anemia Fe
- Penyebab Anemia Fe
- Pencegahan Anemia Fe

C . METODE
1.Ceramah
2. Tanya jawab
3. Dikusi

D. PENGORGANISASIAN KELOMPOK
- Penyaji : Ririn Charlina
- Notulen : Nurholiza
- Moderator : Reska

E. MEDIA
Poster dan leaflet

F. PELAKSANAAN KEGIATAN
Tahapan kegiatan Kegiatan penyuluhan Kegiatan peserta Waktu
Pembukaan • Mengucapkan salam
• Memperkenalkan diri
• Apersepsi
• Menjelaskan secara umum tujuan penyuluhan • Menjawab
• Mendengarkan
• Memberi tanggapan
• Mendengarkan 5 menit
Isi • Melaksanakan kegiatan penyuluhan :
• Menjelaskan materi • Mengikuti
• Melaksanakan
• Melaksnakan
• Memperhatikan dan mendengarkan
• Melaksnakan 25 menit
Penutupan • Memberi kesempatan ke masyarakat untuk bertanya
• Memberikan pertanyaan
• Memberikan penjelasan terhadap jawaban peserta
• Menyimpulkan
• Mengucapkan salam penutup • Mengajukan pertanyaan
• Menjawab
• Mendengarkan
• Merespon
• Menjawb salam 10 menit

H. EVALUASI
1. pertanyaan : “Apa pantangan pada prnderita anemia, dan bagaimana pemulihan anemia itu sender?”
Jawaban :” Pada penderita anemia yang perlu dilakukan adalah mengurangi aktivitasnya karna saat dia lelah yg dibutuhkan istirahat dan yang penting adalah nutrisi dan zat besi yg terdapat pada daging, udang, telur,dan ikan. Makanan tersebut mengandung zat besi yg dibutuhkan tubuh
2.Pertanyaan : “ Tadi katanya kalau bayi harus minum ASI eklusif, jika ibunya sakit TBC apa boleh bayi minum ASI dari ibunya?? Bagaimana penatalaksanannya???
Jawaban : “ bila ibunya mengidap penyakit TBC maka ibu masih tetap bias menyusui bayinya, karna penyakit TBC ditularkan melalui ASI, tapo saat ibu menyusui anaknya ibu harus memakai masker dan menjaga kebersihan payudara serta mencuci tangan sebelum memegang bayi, dikawatirkan bakteri dapat tertular dari tangan yang kotor.
I.REFERENSI
- http://drhennyzainal.wordpress.com/2009/11/21/anemia-defisiensi-fe-sering-terjadi-pada-anak-asi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Anemia

LAMPIRAN



Anemia Defisiensi Fe Pada Anak

Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal.
Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh .
Dampak anemia bisa lebih buruk dari yang kita duga. Padahal pencegahannya mudah. Si kecil sulit konsentrasi? Bisa saja, ia bosan dengan pelajaran di sekolah. Namun problem utamanya mungkin anemia.
Kekurangan zat besi (Fe) dalam tubuh merupakan penyebab utama anemia. Sekitar 50-80% anak mengalami anemia. Dampaknya tak cuma rewel, lesu, atau sulit konsentrasi. Perkembangan otak pun bisa terhambat. Dalam banyak kasus, kekurangan zat gizi lain dalam tahap sub-klinis -yang tidak menghasilkan gejala-gejala tertentu- tidak akan berakibat serius, kecuali dibiarkan terus berkembang. Namun dalam kasus zat besi, kekurangan di tahap ini pun memberi efek nyata terhadap perilaku dan perkembangan anak, bahkan jika tak diiringi gejala-gejala lainnya.
Zat besi salah satu unsur terpenting dalam makanan bayi dan anak, dan terdapat pada makanan yang mengandung mineral atau protein tinggi, terutama pada bahan makanan hewani seperti ikan, unggas, dan daging. Zat besi juga komponen penting dalam hemoglobin dalam sel darah merah, mioglobin (zat warna merah daging), dan proses-proses yang berkaitan dengan pernafasan sel.
Kebutuhan zat besi pada bayi dan anak hanya sekitar 1 mg saja. Namun, kebutuhan ini bisa terganggu karena tidak semua zat besi dalam makanan dapat diserap tubuh. Besi jenis haem pada makanan hewani lebih mudah diserap (10-20%), dibanding besi non-haem pada makanan nabati (1-5%).
Kebutuhan Zat Besi Pada Bayi
Bayi normal yang baru lahir punya cadangan zat besi sebesar 250-300 mg. Namun sebelum beranjak dewasa, jumlah cadangan zat besi yang diperlukannya harus menjadi 4-5 gram, kalau tidak ingin kekurangan zat besi. Pada periode pertumbuhan yang sangat cepat, seperti masa bayi, kebutuhan zat besi menjadi sangat tinggi akibat pertumbuhan jaringan yang cepat.
Menurut Prof. DR. Dr. Solichin Pudjiadi, DSAK., dalam bukunya Ilmu Gizi Klinis pada Anak, ASI maupun susu sapi tidak mengandung cukup zat besi untuk memenuhi kebutuhan bayi tersebut. Namun, bayi yang mendapat ASI tak cepat kekurangan zat besi, karena 48% kadar besi dalam ASI bisa diserap bayi. Bayi yang tak mendapatkan ASI (dengan kata lain SuFor dan sebagainya) hanya akan mendapat 5-10% zat besi dari bahan makanan lainnya, oleh karena lebih sulit untuk dicerna. Jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan zat besi dalam tubuh bayi yang tengah berkembang pesat.
Gangguan Otak
Kekurangan zat besi menyebabkan berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah merah, sehingga bayi atau anak akan mengalami anemia zat besi. Di negara-negara berkembang, anemia zat besi sangat sering dijumpai pada anak maupun wanita. Bahkan menjadi salah satu dari 4 penyakit gangguan gizi utama di Indonesia. Diperkirakan, 50-80% anak Asia kekurangan zat besi. Bahkan di negara Barat yang maju, kekurangan zat besi bisa mencapai 20% pada anak dan orang dewasa.
“Bila sel darah merah kekurangan zat besi, kemampuan hemoglobin untuk mengangkut oksigen berkurang, sehingga mengganggu metabolisme tubuh,” jelas Dr. Syarif Rohimi, Sp.A. dari Klinik Anakku, Bekasi. Anemia zat besi menimbulkan dampak merugikan. Meski kadar hemoglobin tubuh belum menurun, kekurangan zat besi bisa mengubah metabolisme sel dan fungsi jaringan dengan menurunnya kadar enzim-enzim yang membutuhkan zat besi untuk aktivitasnya.
Kekurangan zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan otot dan menyebabkan kekurangan tenaga. Zat besi juga diperlukan untuk menghasilkan energi dari makanan, sehingga jika jumlahnya kurang dapat menyebabkan kelelahan dan kurang energi.
Penelitian pada anak usia 6-18 bulan menunjukkan, anemia zat besi pada masa bayi bisa menjadi salah satu sebab gangguan fungsi otak permanen. Kekurangan zat besi pada masa ini harus menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi kecerdasan dan perkembangan psikomotorik. “Penelitian yang membandingkan anak-anak yang kurang zat besi dengan yang zat besinya normal menunjukkan, ada gangguan nyata pada anak yang kekurangan zat besi,” kata Prof. Geoff Cleghorn, Univesity of Queensland, Australia. Juga ada bukti bahwa gangguan intelektual dan psikomotorik akibat kekurangan zat besi tidak selalu dapat balik kembali meski tingkat zat besinya diperbaiki.
Kekurangan zat besi dapat mengurangi fungsi sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan kehilangan nafsu makan. Pada sebagian kasus, anak yang kekurangan zat besi akan makan tanah liat, lempung, atau makanan lain yang aneh (yang dikenal sebagai pica).
Gejala Anemia Besi
Menurut Syarif, tingkat anemia bermacam-macam, dari ringan sampai berat. “Anemia zat besi yang ringan dan sedang biasanya menimbulkan gejala pucat, lesu, lelah, dan pusing. Untuk anak usia sekolah, anak menjadi kurang mampu belajar dan kurang berprestasi.” Sedangkan anemia tingkat berat, akan mengganggu fungsi jantung dan menimbulkan gejala sesak nafas, berdebar-debar, bengkak di kedua kaki, hingga gagal jantung.
Bila gejala anemia berlangsung dalam jangka waktu relatif lama dapat mengakibatkan berbagai gangguan organ dan sistem pada tubuh anak. Misal, gangguan pertumbuhan organ, yang membuat tubuh anak tampak kecil dibanding usianya. Lalu gangguan kulit dan selaput lendir, gangguan sistem pencernaan karena berkurangnya asam lambung sehingga selaput tipis di ususnya jadi
kecil-kecil atau tak berkembang (atrofi mukosa lambung), gangguan otot gerak sehingga anak cepat lelah dan lesu, gangguan sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit, dan gangguan jantung, yakni berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa darah. Terakhir gangguan fungsi kognitif, antara lain kurang mampu belajar dan kemampuan intelektualnya kurang.
Bahkan, jika defisiensi zat besi berlangsung lama, misal, terjadi sejak usia bayi dan tak dilakukan koreksi sampai anak usia 2 tahun, bisa menyebabkan gangguan mental. “Bila anak sampai mengalami gangguan mental, sifatnya akan menetap atau tak bisa diubah, meski anemianya sudah teratasi,” papar Syarif.
Tiga Tahap
Pada stadium dini atau satu, jelas Syarif, bila anak kekurangan zat besi, maka cadangan zat besi di tubuhnya akan dipakai. Karena cadangan zat besinya dipakai, lama-lama zat besinya habis. Tapi anak belum menunjukkan gejala semisal pucat. Karena masih ada cadangan zat besi dalam darah, yaitu serum
iron dan transferin. Inilah yang dipakai. Pada kondisi ini disebut stadium dua. Stadium tiga baru timbul gejala anemia seperti kadar HB-nya turun dan dalam pemeriksaan darah akan timbul gambaran sel darah merah lebih kecil dan pucat daripada yang normal.
Lama berlangsungnya dari stadium satu ke berikutnya tergantung derajat ringan-berat kekurangan zat besinya. Misal, bayi yang lahir prematur dari ibu yang kekurangan zat besi dalam darahnya, relatif berisiko kekurangan zat besi dibanding bayi normal. “Bisa dibilang, bayi ini lebih cepat kekurangan zat besi karena bayi prematur belum mampu menimbun zat besi dalam tubuhnya. Selain itu, ia juga butuh banyak zat besi untuk mengejar kebutuhannya. Belum lagi kalau ada infeksi, misal. Jadi, banyak faktornya.”
Lakukan Pengobatan
Pengobatan anemia tergantung berat-ringannya. Untuk yang ringan, terang Syarif, bisa dilakukan dengan pemberian suplementasi atau preparat besi yaitu sulfas ferosus. Pemberiannya berlangsung sampai kadar hemoglobinnya kembali normal. Namun bila sudah mengganggu seperti anak pucat sekali dan kadar HB-nya turun sampai menimbulkan gangguan jantung, misal, harus dilakukan transfusi darah.
Tentu saja, penyebab kekurangan zat besinya pun harus dicari. Apakah karena pertumbuhan yang cepat, penyakit infeksi, pola makan tak tepat, atau lainnya. Bila sudah diketahui, maka penyebabnya itulah yang diatasi. Misal, akibat penyakit infeksi, maka penyakitnya diobati. Bila karena pola makan, maka pola makannya harus diperbaiki. Bila tak dicari penyebabnya dan anak hanya diberi obat-obatan, tentu anemianya akan kembali berulang.
Sebetulnya, kata Syarif, anemia termasuk penyakit ringan dan disembuhkan. Hanya saja, karena tak dideteksi dini dan tak dikoreksi bisa berdampak besar bagi tumbuh kembang anak. Padahal, sejak bayi lahir, anemia sudah bisa dideteksi. Soalnya, pada hari pertama atau ketiga setelah kelahiran, biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk dilihat kadar hemoglobin, bilirubin, dan golongan darahnya.
“Selain itu, juga bisa diprediksi dengan melihat faktor ibunya, apakah si ibu menderita anemia, kekurangan gizi hingga mempengaruhi pemberian nutrisi pada bayinya, perdarahan waktu persalinan, atau melahirkan anak kurang bulan. Bila demikian tentu anak yang dilahirkan akan berisiko untuk anemia.”
Pencegahan anemia sendiri perlu dilakukan secara holistik, dalam arti menyeluruh. Orangtua dan dokter harus memonitor secara rutin tiap bulannya dengan melihat berat badan dan tinggi badan anak, melakukan imunisasi, serta melihat kondisi kesehatan anak secara umum.



5 Penyebab Kekurangan Zat Besi
1. Pertumbuhan anak yang cepat sekali
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, pertumbuhan anak terjadi cepat sekali. Normalnya, kenaikan berat badan rata-rata pada usia bayi setiap bulannya adalah 1 kg. Namun, ada juga bayi yang tumbuhnya cepat sekali, misal, usia 3 bulan berat badannya sudah 8 kg.
“Pertumbuhan anak yang cepat sebetulnya baik. Diharapkan tumbuh kembangnya juga bagus. Hanya saja hati-hati, apakah si anak kurang zat besi atau tidak. Jadi, harus dideteksi dan diantisipasi. Sebab, pertumbuhan anak yang terjadi dengan cepat, memerlukan zat besi yang lebih banyak,” jelas Syarif.
2. Pola makan kurang tepat
Misal, bayi usia 7 bulan hanya mengkonsumsi ASI. Padahal, waktu bayi lahir, sumber zat besi yang ada di organ hatinya hanya cukup sampai usia 4-6 bulan. Jadi, setelah usia 6 bulan, bayi harus diberi makanan tambahan yang mengandung cukup zat besi.
Itu sebab, pemberian AS Eksklusif pun cuma 6 bulan. Untuk bayi yang oleh suatu sebab tak mendapat ASI Eksklusif, pemberian makanan tambahan dimulai usia 4 bulan. Selanjutnya bayi harus dikenalkan makanan tambahan semisal bubur susu dan buah-buahan. Lalu bubur nasi yang dilanjutkan nasi tim.
Setelah satu tahun, makanannya seperti makanan orang dewasa. Makanan tersebut harus bergizi seimbang, beragam, dan bervariasi.

3. Ada penyakit infeksi
Misal, anak terkena penyakit saluran nafas. “Kuman pada anak yang menderita penyakit infeksi akan menggunakan zat besi di dalam tubuh anak untuk tumbuh dan berkembang biak. Inilah yang menyebabkan anak mudah menderita anemia defisiensi zat besi,” terang Syarif.
4. Gangguan penyerapan zat besi
Penyerapan zat besi terjadi di usus. Gangguan penyerapan zat besi bisa terjadi lantaran ada penyakit di selaput lendir usus yang lama-lama menimbulkan diare, atau ada zat yang mengganggu penyerapan zat besi. Otomatis hal ini menyebabkan difisiensi zat besi.
5. Ada perdarahan di saluran cerna
Ini bisa terjadi bila ada penyakit kelainan usus ataupun penyakit infeksi cacing tambang atau parasit lainnya. Biasanya pada daerah tertentu di mana anak bermain kotor-kotor, cacing tambang bisa masuk lewat kakinya dan menyebabkan anak mengeluarkan darah saat buang air besar.
Tak Semua Zat Besi Sama
Meski buat Popeye bayam adalah makanan ajaib, namun sebenarnya zat besi dalam bayam tidak sebaik yang orang kira, karena kebanyakan tidak bisa diserap oleh tubuh. Ada dua jenis zat besi dalam makanan: zat besi haem dan non haem. Zat besi haem ditemukan dalam makanan hewani seperti daging, ikan, telur, dan daging ayam. Zat besi non-haem ditemukan dalam makanan nabati seperti roti, sereal, sayuran, kacang-kacangan, serta suplemen zat besi.
Zat besi haem jauh lebih mudah diserap tubuh, karena penyerapannya 10 kali lipat lebih mudah dibanding zat ebsi dari sumber non-haem. Jadi meskipun makanan seperti bayam dan kacang mempunyai kandungan zat besi yang tinggi, jumlah zat besi yang diserap tubuh jauh lebih rendah dibanding dari daging. Daging warna merah yang rendah lemak merupakan sumber terbaik zat besi.
Mencegah Kekurangan Zat Besi
* Pastikan makanan mengandung cukup zat besi, khususnya zat besi haem. Makanan yang tinggi zat besi haem sebaiknya dikonsumsi sekurangnya 4x seminggu
* Pastikan sereal atau susu formula yang dikonsumsi setelah si kecil mulai makan makanan padat diperkaya zat besi
* Hindari mengkonsumsi makanan yang dapat menghalangi penyerapan zat besi non-haem, misalnya kopi, teh, dan banyak serat
* Tingkatkan penyerapan zat besi non-haem dari bahan pangan nabati dengan menambahkan sejumlah kecil zat besi haem seperti daging, ikan, atau ayam.
Ini dapat meningkatkan penyerapan zat besi dari sayuran sebanyak 4x lipat
* Makanan dan minuman yang tinggi vitamin C seperti buah atau jus jeruk dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-haem. Minum segelas jus jeruk dengan sereal sarapan pagi atau tambahkan seiris jeruk lemon pada segelas teh
* Kalau si kecil vegetarian, mintalah ahli gizi mengitung status zat besi dari makanannya. Suplementasi zat besi mungkin diperlukan.
Sumber: Tabloid Ibu Anak
**Catatan Tambahan :
Pada bayi dengan ASI Eksklusif 6 bulan, ASI telah memenuhi kebutuhan gizi sebesar 100%. Sehingga pada usia ini tidak diperlukan makanan tambahan lainnya.
Sedangkan pada usia > 6 bulan, ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi bayi. Sehingga di usia ini ditambahkan makanan penambah ASI. Atur menu makanan bayi/anak dengan baik, sehingga kebutuhan zat besi pada bayi/anak dapat terpenuhi.

Nidji - Jangan Takut

jangan jangan takut lagi
jangan jangan takut cinta
ku bukan dia yang tidak setia
jangan jangan takut aku
cinta yang tulus takkan menyakitimu

oh jika kau butuh cinta akulah orangnya
oh jika kau butuh cinta aku kan setia
oh jika kau butuh cinta pilihlah aku

jangan jangan takut lagi
jangan jangan takut cinta
cinta sehati takkan melukaimu
jangan jangan takut aku
cinta yang tulus takkan menyakitimu

oh jika kau butuh cinta akulah orangnya
oh jika kau butuh cinta aku kan setia
oh jika kau butuh cinta pilihlah aku

oh jika kau butuh cinta akulah orangnya
oh jadi kau jangan takut jatuh cinta
oh jika kau butuh cinta akulah orangnya
oh jika kau butuh cinta pilihlah aku
oh pilihlah aku oh oh

if you want love if you want to know
if you want love.....

Kamis, 01 Maret 2012

Jessie J - Price Tag (feat. B.o.B) Lyrics

[Jessie J]
Seems like everybody's got a price,
I wonder how they sleep at night.
When the tale comes first,
And the truth comes second,
Just stop, for a minute and
Smile

Why is everybody so serious!
Acting so damn mysterious
You got your shades on your eyes
And your heels so high
That you can't even have a good time.

[Pre-chorus]
Everybody look to their left (yeah)
Everybody look to their right (ha)
Can you feel that (yeah)
Well pay them with love tonight...

[Chorus]

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag

Ain't about the (ha) Cha-Ching Cha-Ching.
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling
Wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag.

[Jessie J - Verse 2]
We need to take it back in time,
When music made us all UNITE!
And it wasn't low blows and video Hoes,
Am I the only one gettin'... tired?

Why is everybody so obsessed?
Money can't buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now

Guarantee we'll be feelin
All right.

[Pre-chorus]
Everybody look to their left (yeah)
Everybody look to their right (ha)
lyricsalls.blogspot.com
Can you feel that (yeah)
Well pay them with love tonight...

[Chorus]

[B.o.B]
Yeah yeah
well, keep the price tag
and take the cash back
just give me six streams and a half stack
and you can keep the cars
leave me the garage
and all I..
yes all I need are keys and guitars
and guess what, in 30 seconds I'm leaving to Mars
yes we leaving across these undefeatable odds
its like this man, you can't put a price on the life
we do this for the love so we fight and sacrifice everynight
so we aint gon stumble and fall never
waiting to see, a sign of defeat uh uh
so we gon keep everyone moving their feet
so bring back the beat and everybody sing
it's not about...

[Chorus x2]

[Jessie J -Outro]
Yeah yeah
oo-oooh
forget about the price tag
[End]

Adele -Someone Like You

i heard, that your settled down.
that you, found a girl and your married now.
i heard that your dreams came true.
guess she gave you things, i didn't give to you.

old friend, why are you so shy?
ain't like you to hold it back or hide from the light.

i hate to turn up out of the blue uninvited.
but i couldn't stay away, i couldn't fight it.
i'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
that for me, it isn't over.

nevermind, i'll find someone like you.
i wish nothing but the best, for you too.
don't forget me, i beg, i remember you said:-
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah.

you'd know, how the time flies.
only yesterday, was the time of our lives.
we were born and raised in a summer haze.
bound by the surprise of our glory days.

i hate to turn up out of the blue uninvited,
but i couldn't stay away, i couldn't fight it.
i'd hoped you'd see my face & that you'd be reminded,
that for me, it isn't over.

nevermind, i'll find someone like you.
i wish nothing but the best for you too.
don't forget me, i beg, i remember you say:-
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead", yay.

nothing compares, no worries or cares.
regret's and mistakes they're memories made.
who would have known how bittersweet this would taste?

nevermind, i'll find someone like you.
i wish nothing but the best for you.
don't forget me, i beg, i remember you said:-
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

nevermind, i'll find someone like you.
i wish nothing but the best for you too.
don't forget me, i beg, i remembered you say:-
"sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yay yeh yeah.

Jumat, 17 Februari 2012

BCL - yang lalu biarlah berlalu

waktu pun terhenti
hatiku mencari
mataku terpukau pada satu tatapan

membeku langkahku
tergetar hatiku
terperangkap aku dalam keindahanmu

kau dekati aku
kau sentuh tubuhku
kau buat diriku terhanyut dalam pelukmu

sejenak kusadar kau bukan cintaku

chorus:
lepas pelukanmu dariku
buang jauh perasaanmu
semua tentang kita
ingin aku lupakan
yang lalu biarlah berlalu
jangan lagi ini terjadi
biarlah kita jalani
cinta dijalan yang berbeda

yang telah terjadi
sudahlah lupakan
jika terus kau kenang
hanya membuat luka dihati

BCL - Someone Like You

i never tought you came in to my life
it makes my life brighter
it makes my dreams come true

you bring life to everything i do
our love is sincere
for the last forever...i love you...

and you know my love is true...
huuu..huu..huu..huuu
it will never end
till the end of time

reff :
i will never find some one like you
but i have to go on
and i'm still will go on

i will never find a love like yours
and those sweet memory
it will always lasts ..
forever...

BCL _ Wajahmu ingatkan aku

wajahmu ingatkan aku
dengan dia yang telah tiada
tak bermaksud kusamakan
kau dengan dia

aku tak tahu mengapa tuhan
mempertemukan aku denganmu
aku cinta dia
tapi takdir memisahkan

reff
kau datang di waktu yang tepat
kau mengisi sakit jiwaku
walau mungkin kau pun terluka
wajahmu ingatkanku

aku sampai tak bisa bedakan
rasa bahagia dan rasa sedih
www.musikji.net
sejak aku anggap dia
takkan tergantikan

back to reff
salahkah aku yang tak berdaya
wajahmu ingatkanku
dengan dia

Selasa, 14 Februari 2012

CINTA "datang dan pergi"

bagiku mencintai seseorang lelaki itu tidaklah mudah. sulit aku bisa tuk mencintai.
tetapi saat aku akan mencintai dan dia pun mencitaiku. maka hatiku takkan mudah melepaskannya.

untuk mencintai orang yang mencintaiku aku, aku pun mau melihat semua yg ia lakukan padaku, dan aku pun kan membalas kebaikannya itu,
sebisa mungkin aku kan membuat ia bahagia disamping aku.

tapi, saat ku tlah bersamanya ada beberapa hal yang harus ia ketahui tentang aku,
bahwa aku tak ingin dibhongi, di duakan, diabaikan , dan tak ada komitmen.

suatu saat cinta yg au harap itu hilang dariku.. aku mulai berdiam sendiri memikirkan apa yang salah dari diriku,
walaupun aku sendiri,
aku tak mau cepat-cepat menerima laki=laki lain dalam hatiku.
karna cinta tak semudah itu dilupakan.

kegagalan membuatku lelah untuk memulai lagi.